Apakah Kamu Akan Sukses Dengan IPS?

Apakah Kamu Akan Sukses Dengan IPS? -Begitulah kata masyarakat memandang jurusan IPS – Ilmu Pengetahuan Sosial dalam jenjang SMA.

Tidak satu dua kali saya mendengar kata-kata seperti itu berdengung di kepala, tetapi berkali-kali sampai rasanya saya ingin mengatakan kepada mereka.

“Hei Bung! IPS bukan tempat buangan! Pandanganmu terhadap kami, bukan penentu kesuksesan kami!”

Saya adalah pelajar SMA jurusan IPS yang sedang duduk di kelas XI. Meskipun awalnya banyak yang menyayangkan mengapa saya memilih IPS, hal yang dapat saya lakukan adalah tersenyum lebar kepada mereka.

Kebanyakan masyarakat memandang IPS adalah tempat anak nakal, buangan dari IPA, atau.. tempat anak yang tidak bisa matematika.

Tolong, bukan itu jawabannya wahai masyarakat yang terhormat. Berikut adalah kata-kata yang sering saya dengar.

1. IPS Isinya Ilmu Menghafal Melulu!

Tidak 100% IPS adalah menghafal. Dalam ilmu sosial kita memiliki Sosiologi, Geografi, Antropologi, dan Sejarah Peminatan yang memiliki banyak materi termasuk teori. Tetapi menganalisis adalah sesuatu yang tidak bisa lepas dari ilmu sosial, dan memandang relevansi materi dengan status quo yang terjadi sekarang. Anak IPS diharuskan lebih peka terhadap lingkungan sekitar, berita hangat, dan kritis dalam memahami sesuatu.

Bukan berarti kita hanya memahami materi secara stagnan tanpa berkembang, apalagi dengan Kurikulum 2013 saat ini yang mewajibkan murid untuk lebih aktif daripada gurunya sendiri, ini adalah suatu peluang untuk lebih cermat, selidik, dan kritis dalam mengembangkan berbagai informasi. Tidak hanya mencakup dalam satu topik, tetapi dalam Ilmu Sosial suatu hal bisa dikaitkan dengan A – B – C dst.

2. IPS Pasti Tidak Pintar Matematika!

Adalah hal yang lucu nan menggelitik apabila mendengar kalimat ini berputar di kepala. Lalu kemanakah ilmu Ekonomi yang termasuk materi utama dari IPS? Di dalam Ekonomi terdapat materi Akuntansi yang diterapkan dalam penghitungan uang, dan di dalam prospek kerja Akuntasi dibutuhkan keahlian untuk teliti, berpikir kritis terhadap rencana kedepan, dan tentunya keahlian menganalisis untuk mengantisipasi kecurangan.

3. IPS Tidak Menantang!

Perkataan seperti ini pernah melayang di pikiran saya saat menduduki kelas X semester awal. Pemikiran saya seperti masyarakat pada umumnya, menganggap enteng apa itu IPS. Tetapi lambat laun, saya berani bertaruh bahwa IPS tidak senteng apa yang dibayangkan.

Dalam IPS kita mempelajari banyak hal yang terjadi di samping kanan kiri kita, termasuk masyarakat, masalah sosial, penyimpangan, yangmana hal ini membutuhkan pemikiran yang jeli, dan kritis. Dalam IPS kita tidak dapat memandang suatu hal yang salah adalah seratus persen salah.

Tetapi IPS mengajarkan bahwa sesuatu yang salah bisa menjadi benar, tergantung darimana sudut pandang kita menyikapinya karena atas dasar faktor-faktor tertentu.

4. IPS Tidak Memiliki Prospek Kerja yang Cerah!

Kalimat ini adalah yang terdengar dari kepala saya saat saya duduk di bangku SMP lalu. Mereka berkata bahwa IPS tidak bisa menjadi dokter, menjadi seorang perwira, atau polisi yang tinggi pangkatnya. Mungkin mereka kurang tanya ke kiri dan kanan. Saat saya surfing kemarin malam di internet. Banyak yang mengatakan bahwa saat ini jurusan kedokteran dapat diraih oleh anak IPS asal mereka memilih lintas minat yang tepat.

Andaikan saja kita berpendapat bahwa IPS tidak memiliki prospek kerja yang cerah, maka apakah para Kedubes, Diplomat, Konsultan Hukum, Pengacara, semuanya adalah anak non IPS? Perlu dipertimbangkan kembali konsep yang salah di pemikiran masyarakat ini.

5. IPS Tempat Anak Buangan

Huft, ini adalah hal yang agak memicu emosi saya. Tetapi sabar.. sabar. Memang diakui dalam realita yang ada, IPS adalah tempat bagi mereka yang tidak tertampung dalam IPA. Tetapi pertanyaannya.. “Mengapa harus IPS?” Apabila IPS terus menerus menjadi tempat bagi mereka yang tidak diterima di IPA, maka secara tidak langsung IPS dianggap “lebih rendah.” daripada IPA. Padahal hal ini tidak seharusnya terjadi..

Mungkin mengalokasikan peserta didik menuju ke IPS karena IPA tidak memiliki kelas yang cukup, dan IPS memiliki kelonggaran kelas yang sangat banyak. Nahh mengapa tidak melebihkan saja jumlah kelas untuk program IPA? Akan lebih baik mengurangi kelas IPS agar tidak terjadi kekosongan bangku? Sehingga peserta didik yang tidak diterima di IPA masih bisa melanjutkan harapan mereka untuk menggeluti program yang diinginkannya, tanpa harus merubah tujuan jurusan utamanya.

Tentu hal itu sudah menjadi regulasi tiap sekolah yang penulis tidak memiliki kewenangan untuk menyangkalnya.

Kelima hal tersebut adalah stereotipe masyarakat yang masih melenceng jauh dari cita-cita IPS yang tertuang dalam Kurikulum 2013 yaitu :

Membina peserta didik menjadi warga negara yang mampu mengambil keputusan secara demokratis dan rasional yang dapat diterima oleh semua golongan yang ada di dalam masyarakat.

Jabaran atas pemikiran masyarakat tidak merujuk kepada seseorang, atau pihak tertentu, tetapi ini adalah gambaran secara umum sebagian masyarakat yang menganggap IPS dengan pandangan sebelah mata.

Tidak hanya itu saja semua jurusan dalam SMA yaitu IPS, IPA, BAHASA memiliki keterikatan yang luar biasa diantara mereka dan memiliki standar yang sama. Hal yang membedakan diantara mereka hanyalah mata pelajaran yang diampu untuk jurusan kuliah mereka kedepan. Pesan untuk para orang tua, guru-guru, hingga masyarakat di sana.

“Jangan menjadikan jurusan sebagai suatu kasta. Tetapi pandanglah jurusan tersebut sebagai jembatan yang menjadi jalan mereka menuju masa depan.”

Entah darimana kau berasal baik itu IPA, IPS, atau BAHASA. Kita memiliki cita-cita yang sama yaitu semua untuk Indonesia. Kita berjuang bersama untuk kemajuan bangsa, pendidikan, dan anak cucu kita! Jangan patah semangat! Terus kejar mimpi setinggi mungkin, dan tak lupa untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa.