Rangkuman Ilmu Pengetahuan Sosial – Ndipartidos

Ndipartidos.org adalah Situs Rangkuman Dari Semua Ilmu Pengetahuan Sosial
Mengenal Antipositivisme dalam Ilmu Sosial

Mengenal Antipositivisme dalam Ilmu Sosial

Mengenal Antipositivisme dalam Ilmu Sosial – Debat Antipositivisme adalah salah satu konsep terpenting yang diperkenalkan pada ilmu sosial modern saat ini. Ini menyebabkan perbedaan penting yang ada antara dua cara memandang dan meneliti dunia di sekitar kita – pandangan positivis dan antipositivist. Pandangan positif menunjukkan bahwa kita dapat mempelajari fenomena sosial dan budaya dengan menggunakan metode berbasis empiris yang sama seperti yang dapat ditemukan dalam ilmu eksakta atau alam, seperti biologi atau matematika. Di sisi lain, antipositivisme berpendapat bahwa untuk menjelaskan apa pun yang telah terjadi di dunia tempat kita tinggal, para ilmuwan harus mengandalkan metode pemahaman dan terutama interpretasi fenomena sosial yang ada.

Asal dan Perbedaan Metodologis

Antipositivisme sangat erat kaitannya dengan gagasan Max Weber, seorang sosiolog Jerman yang menekankan akan pentingnya nilai-nilai yang ada dalam masyarakat atau kelompok subkultural tertentu. Bersama Georg Simmel, pemikir Jerman yang sangat terkemuka lainnya saat itu, Weber menegaskan bahwa penelitian apa pun harus difokuskan pada pemahaman interpretatif (Ger., Verstehen).

Perbedaan antara pendekatan positivis dan antipositivist dalam penelitian juga dapat ditemukan dalam metode yang digunakan untuk melakukan penelitian. Pendekatan positivis biasanya akan mencakup metode analisis dan eksperimen statistik, sementara di sisi lain, pendekatan antipositivist akan berfokus pada melakukan penelitian lapangan, etnografi, dan analisis wacana (kritis). Antipositivis berpendapat bahwa tidak ada yang namanya objektivitas nyata. Ilmuwan yang telah terlibat dalam penelitian apa pun harus selalu menyadari kepercayaan budaya mereka sendiri karena mereka akan mempengaruhi interpretasi apakah mereka menginginkannya atau tidak. Pandangan antipositivist bergantung pada relativisme budaya, dan dapat dikatakan bahwa pandangan positivistik lebih merupakan pada pendekatan pandangan etnosentris.

Pendekatan Subyektif vs Tujuan

Perhatian utama pada antipositivisme dengan pandangan positivis adalah bahwa hal itu tidak akan mencakup pemahaman. Tujuan utama dari penelitian positif adalah untuk mendeskripsikan, mengontrol, dan pada akhirnya memprediksi fenomena sosial tertentu. Antipositivis menganggap elemen prediksi sebagai elemen yang berpotensi berbahaya karena dapat berfungsi sebagai dasar untuk kontrol sosial kelompok subkultural dan berbagai jenis rekayasa pada tingkat sosial.

Singkatnya, di jantung perdebatan, sebuah pertanyaan krusial sedang diajukan: apa perbedaan antara jenis penelitian subjektif dan objektif? Antipositivisme berpendapat bahwa para ilmuwan tidak dapat menjauhkan diri dari materi penelitian mereka dan oleh karena itu tidak pernah dapat objektif. Cara berpikir seperti ini kemudian dikembangkan lebih lanjut lagi dalam karya Georg Simmel. Simmel tertarik untuk mendeskripsikan fenomena sosial yang ada dengan mengakui bagaimana persepsi seseorang dapat membelokkan temuan ke arah tertentu, dan tidak cenderung berpikir bahwa ini dapat dijelaskan melalui pengumpulan data statistic yang telah ada.

Penolakan Objektivitas

Mengenal Antipositivisme dalam Ilmu Sosial

Antipositivsm meletakkan dasar bagi teori-teori sosial yang akan menjadi menonjol pada paruh kedua abad ke-20: teori kritis, analisis wacana, dan bahkan post-strukturalisme semuanya lebih jauh menunggangi pemotongan epistemologis yang dibuat dengan penolakan objektivitas ini sebagai kemungkinan.

Antipositivisme sangat dipengaruhi oleh para pemikir kritis Mazhab Frankfurt seperti Theodor Adorno, Walter Benjamin, dan bahkan Jurgen Habermas. Masalah utama yang dihadapi Jurgen Habermas dengan positivisme adalah Jurgen Habermas menolak hubungan antara sejarah dan ilmu sosial dan bahwa kita tidak dapat memahami realitas dengan menggunakan metode ilmu eksakta. Dia bersikeras pada hermeneutika, seperti Weber dan Simmel sebelumnya, sebagai cara untuk menjelaskan fenomena sosial melalui interpretasi dan bukan pengumpulan data mentah.